Sabtu, 05 Oktober 2013

PARA ULAMA AHLUL HADIST

Para Ulama Ahlul Hadits

بسم الله الرحمن الرحيم
Biografi para ulama ahlul hadits mulai dari zaman sahabat hingga sekarang yang masyhur :
Sumber: Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama dengan sedikit tambahan.
Diterbitkan di: on Oktober 30, 2007 at 7:07 am  Komentar Dimatikan  

Para Ulama Salaf Lainnya

Para Ulama Salaf Ahlul Hadits selain yang disebutkan diatas yang masyur dizamannya antara lain :
Para Ulama sekarang yang berjalan diatas As-Sunnah yaitu:
Diterbitkan di: on Oktober 29, 2007 at 4:55 pm  Komentar Dimatikan  

Keluarga Rasulullah

صلى ا لله عليه وسلم
Istri- istri Nabi زوجات النبي
Cucu Nabi
Paman Nabi
Diterbitkan di: on Oktober 28, 2007 at 6:38 am  Komentar Dimatikan  

Para Sahabat Rasulullah

صلى ا لله عليه وسلم
Diterbitkan di: on Oktober 27, 2007 at 9:27 am  Komentar Dimatikan  

Para Shahabiyah Rasulullah

صلى ا لله عليه وسلم
Diterbitkan di: on Oktober 26, 2007 at 5:49 am  Komentar Dimatikan  

Para Tabi’in dan Tabiut Tabi’in

Sedangkan para Tabi’ut Tabi’in dan murid muridnya serta generasi sesudahnya telah disebutkan pada biografi diatas antara lain seperti: Malik bin Anas, Imam Al Auza’I, Sufyan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Imam Syafee’I, Imam Hambali, Imam Muslim, Imam Bukhari, Imam Abu Dawud, Imam Hatim, Imam Zur’ah, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i. Serta generasi berikutnya.
Diterbitkan di: on Oktober 25, 2007 at 8:12 am  Komentar Dimatikan  

Pernik-Pernik Para Sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in

Diterbitkan di: on Oktober 24, 2007 at 5:12 pm  Komentar Dimatikan  

Muhadiddtsin

Diterbitkan di: on Oktober 23, 2007 at 5:13 pm  Komentar Dimatikan  

Penutup

Penutup
Demikian perjalanan hidup para ‘Ulama Ahlul Hadits dibuat Semoga dapat menambah pengetahuan kita dalam mengenal generasi terbaik ummat ini. Mereka itulah 3 (tiga) Angkatan yang dinilai oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik ummat Islam.
Rasulullah صلى ا لله عليه وسلم Bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in ) (Hadits Bukhari & Muslim)
Bagaimanakah dengan generasi kita saat ini ?
Diterbitkan di: on Oktober 22, 2007 at 5:28 pm  Komentar Dimatikan  

25 Nabi dan Rasul

Sejarah singkat 25 Nabi dan Rasul ini dikaitkan dengan nash al-Quran, dan untuk lebih lengkap silahkan baca buku karya Ibnu Katsir. Berikut ini kisah singkat 25 Nabi dan Rasul :
Bagi yang mengcopy paste agar disertakan URL-nya
Dilarang untuk dikomersilkan
Diterbitkan di: on Oktober 21, 2007 at 5:19 pm  Komentar Dimatikan  
  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.
    Bergabunglah dengan 172 pengikut lainnya.

    TAUHID

     

    Makna Aqidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama

    Thursday, February 28, 2008 Kitab Tauhid 1
    oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

    Aqidah Secara Etimologi
    Aqidah berasal dari kata 'aqd yang berarti pengikatan. Kalimat "Saya ber-i'tiqad begini" maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.

    Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan "Dia mempunyai aqidah yang benar" berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

    Aqidah Secara Syara'
    Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

    Syari'at terbagi menjadi dua: i'tiqadiyah dan amaliyah.

    I'tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i'tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri'tiqad terhadap rukun-ru­kun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama). (1)

    Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far'iyah (cabang agama), karena ia di­bangun di atas i'tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i'tiqadiyah.

    Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala:
    "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan­nya." (Al-Kahfi: 110)

    "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65)

    "Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)

    Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelu­rusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

    Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu', ..." (An-Nahl: 36)

    Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya." (Al-A'raf: 59, 65, 73, 85)

    Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu'aib dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi'tsah- Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da'i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada se­luruh perintah agama yang lain.

    (1) Syarah Aqidah Safariniyah, I, hal. 4.

     
     
     
     
    Copyright © Tauhid